f Sejarah Berdirinya Pon.Pes. Nurussalam ~ Nurussalam

Desember 19, 2011

Sejarah Berdirinya Pon.Pes. Nurussalam

Pondok Pesantren Nurussalam adalah salah satu pondok di lingkungan Krapyak, Bantul, DI Yogyakarta. Pesantren ini didirikan dan diasuh oleh Ibu Nyai Hj. Salimah (salah satu istri almaghfurlah KH. M. Munawwir). Secara de jure pesantren ini berdiri pada tahun 1953, meskipun secara de facto kegiatan kepesantrenan putri telah ada sebelumnya. Dikenal dengan sebutan pondok putri Krapyak, lembaga ini tercatat pula sebagai pondok pesantren putri tertua kedua di Indonesia—setelah Jombang, dan merupakan satu-satunya pondok pesantren putri di lingkungan pesantren Krapyak pada waktu itu. 
Pada periode awal, pondok ini diasuh langsung oleh muassis (pendiri) pondok beserta putra-putri beliau sampai dengan beliau wafat pada tahun 1967. Selanjutnya, perjuangan beliau dalam mengasuh para santri diteruskan oleh putra-putri beliau yaitu  KH. Dalhar Munawwir, ibu Nyai Hj. Jauharoh Munawwir, dan menantu beliau, KH. Mufid Mas’ud. Pada masa ini, Pondok Pesantren Nurussalam juga mulai menerima santri putra. Setelah itu, pasca KH. Mufid Mas’ud dan ibu Nyai Jauharoh Munawwir mengembangkan dalam mendirikan pondok ke daerah Candi, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. 
Periode berikutnya, pondok ini diasuh oleh almaghfurlah KH Dalhar Munawwir. Pada masa inilah Pondok Pesantren Nurussalam tercatat secara resmi di kantor Departemen Agama Yogyakarta, tepatnya pada tanggal 9 Februari 1984 dengan piagam nomor B. 8406, setelah lebih kurang tiga dasa warsa berdiri. Dalam perkembangan selanjutnya, pondok ini telah banyak menghasilkan banyak alumni. Jumlah santri yang belajar di pondok inipun semakin meningkat. Santri-santri ini tidak hanya datang dari pulau Jawa, tetapi juga dari pelosok-pelosok Indonesia. Bahkan tercatat ada santri putri diluar Indonesia bernama Rusdi Harun dari Thailand. 
Pembangunan dan pembenahan sarana prasarana fisik juga dilakukan, baik berupa kamar santri, musholla putri, musholla putra, madrasatul banat (madrasah putri) maupun madrasah lil banin (madrasah putra) serta sarana prasarana lainnya. Sampai dengan tahun 1994 pondok ini masih terdiri dari 2 musholla dan gedung Kamar A, B, C, D, E, dan F yang sangat sederhana. Hal ini terus dilakukan seperti pembenahan dan penambahan komplek baru— komplek G pada tahun 1999, komplek H pada tahun 2001, gedung sederhana untuk ruang kelas dan kamar tamu pada tahun 2002.
Pada tahun 2006 wilayah Yogyakarta dan sekitarnya dilanda gempa bumi yang dahsyat. Pondok yang berlokasi di Bantul dan berbatasan dengan kota Yogyakarta inipun tidak luput dari gempa. Imbasnya, sebagian bangunan pondok pesantren mengalami kerusakan termasuk rumah kediaman KH. Dalhar Munawwir. Setelah itu, diadakan rekonstruksi dan rehabilitasi seadanya sehingga sekarang bangunan yang ada lebih baik. 
Pada tahun 2009, KH. Dalhar Munawwir wafat. Estafet kepemimpinan Pondok Pesantren Nurussalam dipegang oleh putra-putra beliau, yaitu: H. Fuad Asnawi, S.Pd., M.SI, H. Fathoni, KH Fairuzi Afiq al-hafidz, Faishol Majdi, Fahmi Dalhar, S.Ag., S.S serta Hj. Fanny Rifqoh, S.Pd., M.Hum.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | coupon codes